Ramadhan yang mengingatkan kembali untuk mengumpulkan yang berserak

Seperti biasanya di pagi hari bulan Ramadhan, hari itu selepas shalat shubuh saya bersama beberapa teman duduk-duduk di Masjid Al Manar, Masjid sekitar kost. Kami menunggu sampai matahari terbit demi mengamalkan hadits berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang shalat Shubuh berjama’ah kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari, kemudian ia melaksanakan shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.” (At Tirmidzi, Hasan, lihat Silsilah Ahadits Ash shahihah no. 3403).

Sambil menunggu datangnya matahari terbit untuk shalat isyraq, beberapa kawan ada yang berdzikir, berbincang-bincang, mengaji dan menghapal. Setelah terbit dan menjalankan shalat isyraq, saya menghampiri teman-teman yang sedang berbincang-bincang. Kemudian ada seorang teman yang baru saya kenal namanya, di Masjid di kenal dg Ust Thayyib, mencoba memulai pembicaraan dengan saya dengan bertanya, “Antum adiknya Ust Hanan ya?”.
“Hm… Ust. Hanan siapa ya?”, Saya menjawab untuk menanyakan kembali. Kemudian di jawab sama Ust Thayyib, “Itu Ust Hanan Attaqi yang barusan menjadi Imam”.
“Oh itu… bukan. Masa pantes jadi adiknya Ust Hanan?”. Saya balik bertanya, yang langsung ditimpali oleh Ust Thayyib serius. “Oh ya… soalnya mirip banget. Wajahnya mirip, tutur bahasanya halus, kalau ngaji juga mirip Ust Hanan”. Sayapun kemudian mentertawakan pernyataan yang dikemukakan Ust Thayyib.

Alhamdulillah, di bilang mirip. Saya menganggapnya sebagai do’a karena jelas ini tidak benar. Menurut saya Hanan Attaqi merupakan qari’ asli Indonesia paling top yang saya jumpai. Selain suaranya yang jernih, bacaannya benar-benar menyejukkan. Konon kabarnya, Hanan Attaqi pernah menjadi salah satu pemenang qira’ah murattal Al-Qur’an di Mesir. Dalam hati tentu bangga di bilang mirip, meski tentu saja ini tidak benar. Hanya saja, peristiwa ini mampu menggugah saya kembali. Menggugah untuk mengumpulkan kembali yang berserak. Sudah lama sekali saya tidak menambah hapalan. Dulu begitu ambisius, sekarang bukannya bertambah, malah hapalan yang tidak seberapa justru terbang bersama kemalasan dan kemaksiatan yang dilakukan.

Ya, memang jauh dari kampus dan orang-orang dekat yang dulu bersama-sama saling menguatkan, turut mendegradasi motivasi. Idealisme jelas sekali turut terdegradasi bersamaan dengan memasuki dunia kerja. Tapi ini tidak boleh jadi alasan dan tidak boleh ada alasan lagi. Harus selalu dan selalu memperbaharui niat, dan juga memperbaharui motivasi. Harus tetap semangat! Ganbatte kudasai! Semoga ridha Allah menyertai. Amiin.

Satu Balasan ke Ramadhan yang mengingatkan kembali untuk mengumpulkan yang berserak

  1. bliss24 mengatakan:

    Allahhumma aamiin..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: