Menanti Detik-Detik Ramadhan…

Soal 1:
Apakah wajib berniat shaum di bulan Ramadhan setiap harinya ataukah cukup satu kali niat saja untuk sebulan penuh? Dan kapan sempurnanya hal itu ?
Jawab:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap amalan bergantung pada niat dan setiap seseorang tergantung pada niatnya.”
Maka ini adalah dalil tentang keharusan niat dalam amalan-amalan. Dan yang jelas adalah seseorang harus berniat di setiap harinya. Dan bukan artinya ia harus mengatakan, “Nawaitu untuk berpuasa pada hari ini dan itu di bulan Ramadhan.” Akan tetapi niat adalah maksud atau tujuan, bangunmu untuk melaksanakan sahur dianggap sudah berniat demikian juga penjagaanmu dari makanan dan minuman adalah berarti sudah berniat.
Dan adapun hadits, “Barangsiapa yang tidak bermalam dengan niat shaum maka tidak ada shaum baginya,” ini adalah hadits mudhtarib . Walaupun sebagian ulama menghasankannya tapi yang benar adalah mudhtarib.
Soal 2:
Apabila seseorang bangun dari tidurnya setelah terbit fajar pada hari pertama di bulan Ramadhan kemudian dia makan, sedang dia dalam keadaan tidak mengetahui kalau hari itu adalah awal bulan Ramadhan dan diberitahukan setelahnya. Apakah ia terus berpuasa atau berbuka ?
Jawab:
Ya, ia berpuasa dan tidak membahayakannya karena ia mengira masih ada sisa malam kemudian dia berpuasa dan puasanya benar.
Soal 3:
Apakah boleh bagi seorang yang ragu akan awal masuknya bulan Ramadhan untuk berpuasa sehari sebelumnya?
Jawab:
Dari kalangan Al-Hanabilah (pengikutnya madzhab Ahmad pent) ada yang berpendapat seperti itu akan tetapi yang benar adalah tidak dibolehkan puasa sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan shaum sehari sebelumnya atau dua hari sebelumnya.”
Dan dari sahabat Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari syakk (ragu-ragu) maka telah bermaksiat kepada Abul Qasim.” Maka yang shahih sekali lagi adalah tidak boleh berpuasa dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpuasalah kalian dengan melihat ru’yah dan berbukalah dengan melihat ru’yah. Jika tertutupi awan maka sempurnakanlah hitungan Sya’ban 30 hari.”
Maka tidak ada lagi hal yang tersisa setelah keterangan ini.

Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Al-Fahhamah Muqbil bin Hadi al-Wadi’i dari kitab Qam’u Al-Mu’anid dan Ijabatu As-Sail dan Nashaih wa Fadhaih dan kitab Gharatu Al-Asyrithah.

6 Balasan ke Menanti Detik-Detik Ramadhan…

  1. l5155st™ mengatakan:

    Saya juga lagi ngeposting tulisan tentang ramadhan ini…

    ayo berlomba dalam kebaikan, akhi…

  2. purna mengatakan:

    He..he…
    Siip

  3. gajah_pesing mengatakan:

    Mari kita sambut Ramadhan dengan hati yang tulus…

  4. nakula mengatakan:

    1. Kalau kita pribadi sudah melihat hilal tetapi pemerintah menetapkan puasa baru besoknya, kita puasa sendiri atau ikut pemerintah?
    2. Kita tidak tahu kalau hari ini puasa dan baru mengetahui siangnya misal jam 1 siang, kita kemudian puasa setengah hari. Puasa yang hari itu wajib di qada (di ganti) di luar bulan puasa tidak?
    3. Kalau hari ini baru mengetahui bahwa kemarin sudah masuk bulan Ramadhan dan kita kemarin tidak berpuasa karena keterlambatan berita, Wajibkah kita mengganti Puasa kemarin diluar bulan ramadhan?
    4. Hari ini terlambat bangun untuk sahur dan kita ragu2 udah masuk fajar atau belum (misal tinggal didaerah yang tidak mendengar azdan shubuh), kalau dipaksakan sahur gimana?
    5. Kalau karena suatu alasan yang kuat kita tidak berpuasa (misal sakit, dalam perjalanan jauh), ketetapan yang berlaku di Bulan Ramadhan berlaku juga nggak bagi orang itu?

  5. purna mengatakan:

    weeeh, diberondong pertanyaan…:mrgreen:
    tak coba jawab satu-satu yak…
    1. Para ulama’ berselisih pendapat mengenai hal ini. Madzhab Syafi’i berpendapat ia wajib berpuasa/ber’idul fitri secara sembunyi-sembunyi. Madzhab Maliki dan Hanafi berpendapat wajib berpuasa krn hilal ramadhan, namun mengikuti 1 syawal mengikuti pemerintah. Ulama’ masyhur yg lain seperti Tirmidzi, Ibnul Qayyim, dan Imam As-Shan’ani dalam subulussalam berpendapat bahwa baik Ramadhan maupun ‘Idul Fitri harus dilakukan bersama-sama.
    2. Jika baru mengetahui pada siang hari, maka wajib berpuasa di waktu yang tersisa dan tidak perlu meng-qadha’ karena ia telah berpuasa pd hari itu.
    3. Wallahu a’lam. Saya kurang tahu perkara ini.
    4. Ia harus menghilangkan keraguan terlebih dahulu sebelum mengambil makan dan minum. misalnya dg melihat jam dimana pada waktu itu biasanya shubuh jatuh pukul 5, dan waktu masih 4.50 misalnya, maka Ia dibolehkan sahur. Berbeda dengan kasus, ketika kita memulai makan dan kita yakin masih belum terbit fajar, akan tetapi tiba2 terdengar adzan shubuh, ia boleh makan dan minum apa yg masih dihadapannya sewajarnya, berdasarkan hadits:
    “Jika salah seorang di antara kamu mendengar adzan sedangkan ia masih memegang piring (makan) maka janganlah ia meletakkannya sehingga ia menyelesaikan hajatnya (makannya).” (Hadits riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, Hakim dan dishahihkan olehnya dan oleh Adz Dzahabi).
    5. Jika ia dlm keadaan safar/sakit dan tidak berpuasa, maka ia tidak terkena hukum yg khusus bagi pelaku puasa Ramadhan karena memang ia tidak berpuasa.

    Wallahu a’lam.

  6. riza mengatakan:

    cocok jg bwt bahan buletin nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: