Kalender Hijriyah Overview

Ada pertanyaan menarik dari salah satu peserta kajian ahad pagi di Masjid Nurul Huda Kuta hari ini. Peserta tersebut menanyakan kepada ustadz tentang perintah untuk puasa muharram. Nah, yang ditanyakan bukan tata caranya atau waktunya, akan tetapi pertanyaannya malah begini: “Bagaimana mungkin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam memberi perintah untuk puasa Muharram tiap tahunnya, sementara kalender hijriyah baru ditetapkan zaman khalifah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu?”

Para peserta banyak yang tersentak. Iya, ya…, bagaimana mungkin?

Jawabannya tentu saja mungkin. Karena yang dimaksud penetapan kalender hijriyah itu hanyalah penetapan kapan tanggal 1 hijriyahnya, bukan sistem penanggalan itu sendiri. Bahkan sejak zaman pra-Islam telah dikenal sistem penanggalan ini, yaitu sistem penanggalan berdasarkan peredaran bulan (Qomariyah). Jadi pada intinya, sejak masa pra-Islam telah dikenal penanggalan hanya saja belum ditetapkan penomoran tahun pada sistem penanggalan hijriyah tersebut. Untuk lebih jelasnya berikut ini saya kutip sedikit penjelasan dari wikipedia dan milis:

Karakteristik Kalender Hijriyah

Penentuan dimulainya sebuah hari/tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan pada Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut.

Kalender Hijriyah merupakan sistem kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun, dengan jumlah hari sekitar 354 hari. Karena menggunakan sistem peredaran Bulan, setahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan Kalender Masehi.

Sistem kalender pra-Islam di Arab

Penentuan awal bulan ditandai dengan munculnya penampakan Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari.Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

Sebelum datangnya Islam, di tanah Arab dikenal sistem kalender berbasis campuran antara Bulan (Qomariyah) maupun Matahari(Syamsiyah). Peredaran bulan digunakan, dan untuk mensinkronkan dengan musim dilakukan penambahan jumlah hari (interkalasi).

Pada waktu itu, belum dikenal penomoran tahun. Sebuah tahun dikenal dengan nama peristiwa yang cukup penting di tahun tersebut. Misalnya, tahun dimana Muhammad lahir, dikenal dengan sebutan “Tahun Gajah”, karena pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka’bah di Mekkah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman (salah satu provinsi Kerajaan Aksum, kini termasuk wilayah Ethiopia).

Sejarah Singkat Penetapan Tahun Hijriyah

Pada masa pemerintahan khalifah ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu atau tepatnya pada tahun ke-5 beliau menjadi khalifah, beliau mendapat surat dari Musa Al As’ari Gubernur Kuffah, adapun isi suratnya kurang lebih adalah sebagai berikut : “Telah menulis surat Gubernur Musa Al As’ari kepada Kepala Negara ‘Umar bin Khattab. Sesungguhnya telah sampai kepadaku dari kamu beberapa surat-surat tetapi surat-surat itu tidak ada tanggalnya”.

Kemudian Khalifah ‘Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat yang ada di Madinah untuk mengadakan musyawarah. Didalam musyawarah itu membicarakan rencana akan membuat Tarikh atau kalender Islam. Dalam musyawarah muncul bermacam-macam perbedaan pendapat. Diantara pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

* Ada yang berpendapat sebaiknya tarikh Islam dimulai hari tahun lahirnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam.
* Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam diangkat menjadi Rasulullah.
* Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari Rasulullah di-Isra’ Mi’raj-kan .
* Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam.
* ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berpendapat, sebaiknya kalender Islam dimulai dari tahun Hijriyahnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam dari Mekkah ke Madinah atau pisahnya negeri syirik ke negeri mukmin.

Akhirnya musyawarah yang dipimpin oleh Amirul Mukminin ‘Umar Bin khattab sepakat memilih awal yang dijadikan kalender Islam adalah dimulai dari tahun Hijrah nya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam dari Mekkah ke Madinah. Kemudian kalender Islam tersebut dinamakan Tahun Hijriyah.

8 Balasan ke Kalender Hijriyah Overview

  1. Nur Aini Rakhmawati mengatakan:

    kalo boleh usul nih ,
    sebaiknya tambahkan juga perintah rasulullah tentang puasa muharam

  2. purna mengatakan:

    Boleh, dengan senang hati🙂
    Sekelumit tentang Puasa Muharram:

    Puasa Muharram merupakan puasa yang paling utama setelah puasa ramadhan. Rasululllah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله : أفضل الصيام بعد شهر رمضان شهر الله الذي تدعونه المحرم، وأفضل الصلاة بعد الفريضة قيام الليل (رواه مسلم).

    Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, Rasululllah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah puasa ramadhan adalah puasa dibulan muharram, dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam” (HR. Muslim).

    Dalam hadits lain beliau menjelaskan bahwa puasa pada hari ‘asyura (10 Muharram) bisa menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat.

    عن أبي قتادة رضي الله عنه قال : سُئل النبي صلى الله عليه وسلم عن صيام يوم عاشوراء ، فقال : إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله . رواه مسلم

    Dari Abu Qatadah radliyallaahu ‘anhu Rasululllah shallallaahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘asyura, beliau bersabda: ” Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat” (HR. Muslim).

    Disamping itu disunnahkan untuk berpuasa sehari sebelum ‘Asyura yaitu puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram, sebagaimana sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam yang termasuk dalam golongan hadits Hammiyah (Hadits yang berupa keinginan/cita2 Nabi tetapi beliau belum sempat melakukannya):

    فإذا كان العام المقبل إن شاء الله صمنا اليوم التاسع قال فلم يأت العام المقبل حتى توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم

    “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan”. Akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut”. (HR. Muslim).

    Wallahu a’lam bish Shawab, semoga bermanfaat.

  3. rachmad mengatakan:

    terima kasih atas pencerahannya.. sorry kasih comment-nya kayaknya telat ya? hehehe

  4. purna mengatakan:

    he..he..
    iya memang telat, tapi ndak pa pa
    Ilmu ndak pernah mengenal kata telat kok.🙂

  5. Eli mengatakan:

    Ada banyak ustadz di jakarta yg menggaji karyawannya berdasarkan kalender Hijriyah. Alhamdulillah, selain karena niatnya untuk menegakkan syiar islam, para karyawan juga senang krn gajian akan lebih cepat, paling lama nunggu 30 hari, bln berikutnya 29 hari.

    Penetapan awal tahun islam merupakan bentuk ijtihad dari para shahabat radhiallahu anhum, selain bermakna menegakkan syiar islam jg untuk kemaslahatan ummat. Kenapa orang2 barat menentukan 1 januari sebagai awal tahun yg menurut anggapan mereka adalah hari kelahiran jesus?

    Itulah syiar mereka, kita ummat islam jg punya syiar sendiri. Rasa bangga (bukan congkak atau riya’) menunjukkan keislaman kita adalah bagian dari sikap muslim yg baik. Secara tdk langsung dan berangsur-angsur, mengikuti gaya dan aturan orang kafir dalam hal2 yg di islam sendiri ada padanannya akan mengikis sikap wala’, cinta, dan kecondongan hati kepada syiar-syiar islam.

    Islam adalah agama tengah-tengah diantara dua perintah yg hak. Tetapi mengambil pertengahan antara yg hak dan yg batil bukanlah bagian dari Islam.

    Misalnya ketika kita ditanya apakah kamu seorang Mu’min? Pertanyaan itu mengandung dua makna, yaitu pertama mu’min yg berarti tdk kafir dan kedua mu’min yg merupakan tingkat derajat tingkat keimanan yg menunjukkan kesempurnaan iman. Tentu saja kita wajib menjawab ya untuk makna yg pertama, karena kalau tdk maka akan menyalahi syahadat secara eksplisit. Tdk boleh kita memastikan diri termasuk ke dalam makna yg kedua karena kita dilarang untuk mensucikan diri sendiri, tetapi mencapai derajat mu’min juga merupakan cita-cita yg wajib dimiliki oleh setiap muslim.

    Begitu halnya dgn syiar. Jilbab selain bentuk ibadah, jg menjadi syiar. Insya Allah orang kafir akan lebih takut melihat akhwat2 indonesia berjilbab lebar daripada melihat banyak doktor2 wanita beragama islam tetapi tdk berjilbab syar’i.

    Ada orang salah kaprah, misalnya menunda berjilbab karena merasa belum pantas dan takut dianggap sok alim. Ya masya allah, inginnya merasa tawadhu’ tetapi malah di sisi lain malah berbuat dosa dgn menampakkan aurat. Sejak zaman shahabat pun ada wanita berjilbab tapi pernah berzina, tetapi apakah pantas kemudian ada orang mengolok-oloknya “percuma berjilbab tapi berzina”. Itu adalah olok-olok yg kejam, bisa jadi karena olok-olok tersebut akan mengakibatkan saudara kita tertimpa musibah dua kali, sudah berzina eh malah melepas jilbab. Solusinya adalah, jalankan dulu perintah Allah ta’ala dgn niat untuk melaksanakan kewajiban, urusan takut dianggap sok alim dan ujub kita pasrahkan kepada Allah.

    Wallahu alam

  6. purna mengatakan:

    Fiuhh…
    akhirnya bos dari jkt dateng jugak…😀
    welcome bos eli🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: