Jiwa yang Selalu Merasa Kaya

Written by MT Aminudin
Tetangga yang memiliki mobil baru, rekan seprofesi yang kariernya cepat menanjak, teman kuliah yang rata-rata sukses, tak terasa menimbulkan benih-benih kedengkian dalam hati. Setan lalu membisikkan khayalan dan angan-angan lebih jauh lagi. Padahal ada begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.

Anak-anak yang cerdas dan penurut, rumah tangga yang tenang dan tentram, pekerjaan yang halal, adalah anugerah Allah yang patut disyukuri. Namun kita begitu sering melupakan nikmat yang Allah berikan itu dan lebih suka membandingkannya dengan orang lain, padahal mensyukuri nikmat akan menambah besarnya nikmat itu sendiri. Mengapa tidak bersikap qona’ah saja dengan skenario Allah? Sebab Allah-lah yang lebih mengerti akan kebutuhan kita.

Jika Allah tidak memberi harta berlimpah kepada kita, itu bisa jadi karena kita yang belum siap. Allah tidak ingin kita menjadi pribadi yang sombong dan takabbur. Allah tidak ingin kita menjadi seperti Fir’aun dan Qorun yang mengkufuri nikmat. Jika Allah belum memberi kita kedudukan yang baik dalam karier, itu mungkin karena Allah masih menganggap kita belum mampu memegang amanah, yang justru malah akan menjatuhkan kita.

Jadi, mengapa harus muncul benih-benih kedengkian? Toh semuanya sudah diatur oleh Allah dengan seadil-adilnya dan seproporsional mungkin. Kita tinggal berusaha dan menjalaninya dengan lapang dada, tak perlu muncul keluh kesah apalagi murka. Kedengkian hanya akan membuat hati kita selalu gelisah dan akan menghilangkan kebaikan seperti api yang melalap kayu bakar. Hati kita akan terus menerus merasa tidak puas, terombang-ambing oleh perasaan ketidak-adilan semu. Akhirnya depresi yang terjadi, dan kita sendirilah yang rugi.

Mari renungkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa salam berikut ini: “Orang yang kaya bukanlah dengan harta benda akan tetapi orang yang kaya adalah kaya jiwa” (HR Syaikhani dari Abu Hurairah). Maka kekayaan yang hakiki adalah kaya jiwa, dalam arti tidak tamak apa yang ada pada orang lain, tamak terhadap harta, jabatan, kemasyhuran atau wanita yang dimiliki oleh orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131)

Jiwa yang kaya merasa yakin bahwa rezekinya akan datang seperti janji Allah: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya…” (al-Hud: 23) sehingga hatinya merasa tenang dan tentram, tidak bermusuhan dengan orang lain hanya karena masalah dunia.

Seperti jawaban Hatim al-Asham yang suatu hari ditanya, “Atas dasar apa engkau bertawakkal dalam masalah ini?” Beliau menjawab, “Atas empat hal: aku tahu bahwa rizkiku tidak akan dimakan oleh seseorang, karena itu hatiku tenang, aku tahu bahwa amalku tidak akan pernah dilakukan oleh seseorang, karena itu aku sibuk dengannya, aku tahu bahwa kematian akan datang dengan tiba-tiba, karena itu aku mempersiapkannya, dan aku tahu bahwa aku selalu ada dalam pengawasan Allah, karena itu aku malu kepada-Nya.”

Atau seperti jawaban ‘Ali bin Abi Thalib ketika dimintai pendapat, “Wahai Abul Hasan, terangkanlah sifat dunia kepada kami!” Lalu beliau berkata, “Dengan ungkapan yang panjang atau pendek?” Mereka berkata, “Dengan ungkapan yang pendek saja.” Beliau berkata, “Yang halal dari dunia pasti akan diperhitungkan sedangkan yang haram darinya adalah bekal yang menjerumuskan ke Neraka.”

Begitulah prinsip kehidupan yang mereka jalani, yang bisa menjadi pelepas dahaga bagi jiwa-jiwa yang kering dan tamak. Prinsip hidup yang datang dari hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Prinsip yang semoga mampu menggedor pintu kesadaran jiwa kita yang kini hanyut pada ambisi-ambisi dunia, jiwa yang selalu menuruti keinginan hawa nafsu. Mampukah kita menerapkannya?

Taken from: jilbab.or.id Tips qona’ah cara hidup bahagia dunia akhirat cara menahan hawa nafsu

6 Balasan ke Jiwa yang Selalu Merasa Kaya

  1. no name mengatakan:

    hai engkau jiwa yang disucikan kubersujud kepadamu

  2. purna mengatakan:

    Hai no name🙂
    Assalamu ‘ala manittaba‘a Al-Huda…
    Jika engkau ingin bersujud, bersujudlah pada yang berhak mendapatkannya., yaitu Allah ‘Azza wa Jalla, Sang Pencipta Hidup dan Mati, di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

  3. hanan mengatakan:

    Teringat sebuah artikel mirip-mirip dengan topik ini, mudah-mudahan bermanfaat

    Telaga Hati

    Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang
    dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung
    menceritakan semua masalahnya.

    Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu ia mengambil
    segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil
    segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu
    diaduknya perlahan.

    “Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya “, ujar pak tua.

    “Pahit, pahit sekali “, jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.
    Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke
    tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan
    dan akhirnya
    sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampai disana, Pak tua itu
    kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dgn sepotong kayu
    ia mengaduknya.

    “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk
    air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, “Bagaimana rasanya ?”

    “Segar “, sahut si pemuda.

    “Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua.

    “Tidak, ” sahut pemuda itu.

    Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: “Anak muda, dengarkan
    baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit
    ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan
    memang akan
    tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari
    wadah yang kita miliki.? Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan
    tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan
    kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan;
    lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk
    menampung setiap kepahitan itu.”

    Pak tua itu lalu kembali menasehatkan : “Hatimu adalah wadah itu.
    Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung
    segalanya.? Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana
    telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya
    menjadi kesegaran dan kedamaian.”

    Karena Hidup adalah sebuah pilihan..mampukah kita jalani kehidupan
    dengan baik sampai ajal kita menjelang..?
    belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik.
    http://groups.yahoo.com/group/islam_dot_net/message/14903

  4. Syam Indra Pratama mengatakan:

    Alhamdulillah kita ucapkan selalu kpd Allah SWT yang memberikan anugerah iman kpd siapa saja yg ia kehendaki dan tidak ada sesuatupun yg dapat menghalanginya!
    kaum muslimin dan muslimat yang saya sayangi kita sbg hamba adlh seorang yag lemah,oleh karena itu waspadalah dengan godaan syetan yg terkutuk. Karena sesungguhnya iblis adlh musuh kita yg nyata yg ada dlm setiap rongga dlm diri kita bahkan dialiran darah kita dan disela2 pikiran kita. Maka mintalah selalu perlindungan kepada Allah SWT agar kita tdk terbujuk rayuan syetan yg terkutuk

  5. youlis77lafine mengatakan:

    ya,terkadang yang namanya syukur terhadap anugerah allah itu sering kali jarang terucap,kita sebagai manusia lebih banyak mengeluh,dan inilah salah satu sifat jelek manusia yang selalu dikatakan didalam alquran.
    padahal syukur ini adalah kunci kemenangan,sebagaimana allah mengatakan jika kita beryukur kepadanya maka akan ditambahkan nikmat kepada kita.
    assalamualaikum.

  6. bunda azkal mengatakan:

    alhamdulillah… tidak ada kata terlambat walau baru sekarang saya membacanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: